Powered By Blogger
Add to Technorati Favorites

Al Quran's verse

(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Ra'd, ayat 28).

Search Engine

Showing posts with label Cerpen dan Puisi. Show all posts
Showing posts with label Cerpen dan Puisi. Show all posts

Thursday, March 06, 2008

Walau cuma mimpi



Saat memandang rembulan malam
Rasa takjub menyelimuti

Saat memandang bintang terang
Terpesona seluruh hati

Saat memandang wajah mentari
Gagah terang menyinari

Saat memandang luasnya samudera
Kecil sekali diri ini

Saat memandang megahnya gunung
Rasa kagum merasuki

Kepunyaan siapakah rembulan
Kepunyaan siapakah bintang
Kepunyaan siapakah mentari
Kepunyaan siapakah samudera
Kepunyaan siapakah gunung

Memuncak hasrat hati
ingin bertemu Sang Pemilik

Berbicara padaNya
Bercengkrama padaNya
Berpandangan padaNya
Berhamba padaNya

Dapatkah angin hembuskan hasratku
Dapatkah burung terbangkan keinginanku
Dapatkah hujan membasahi kemauanku

Walau cuma lewat mimpiku

Saturday, October 21, 2006

Mengapa, Ayah?

Ayah…
Itu siapa, ayah?
Kenapa ia melakukan itu, ayah?
Apa gunanya, ayah?

Ayah…
Bukankah itu rakyat, ayah?
Mengapa mereka berdemo, ayah?
Apa yang mereka keluhkan, ayah?

Ayah…
Mengapa rakyat kita selalu mengeluh, ayah?
Mengeluh akan penderitaannya, ayah.
Mengeluh akan kesedihannya, ayah.

Ayah…
Mengapa tidak ada yang membantu mereka, ayah?
Mengapa tidak ada yang memperhatikan mereka, ayah?
Mengapa tidak ada yang menghapus tangisan mereka, ayah?

Ayah…
Kemanakah para pemimpin kita, ayah?
Mengapa mereka tidak kelihatan, ayah?
Padahal rakyat ingin berkeluh-kesah, ayah.

Ayah…
Apakah para pemimpin itu sudah tidak peduli lagi, ayah?
Apakah para pemimpin itu sudah tidak punya telinga lagi, ayah?
Apakah sengaja rakyat dibiarkan begitu saja, ayah?
Dibiarkan buta…
Dibiarkan tuli…
Dibiarkan bisu…
Dibiarkan lumpuh…

Ayah…
Mengapa hal ini tidak kunjung terselesaikan, ayah?
Mengapa hal ini malah…
Oh…, aku jadi tambah bingung, ayah.
Berikanlah aku jawabannya, ayah.
Agar hatiku ini tentram.

Friday, September 08, 2006

Cerpen: P E R M A T A


Suara tangis...

Kudengar suara tangis seseorang dari dalam. Aku yang saat itu sedang menonton putaran siaran langsung sepak bola Liga Inggris, menjadi tergerak juga untuk mencari dimana sumbernya berada. Aku bangkit dari depan tv. Kuperiksa kamar utama yang menjadi tempat tidurku bersama istri. Tidak ada. Langsung aku menuju ke kamar anak kami satu-satunya, Permata. Benar saja, suara tangis itu berasal dari dalam kamarnya. Suara isak tangisan Permata sepertinya ditahan-tahan supaya tidak terlalu didengar oleh orang lain. Namun tetap saja dapat didengar terutama olehku yang berada di ruang tv, yang tidak berada jauh dari kamarnya.

“Salam’alaikum sayang…, sedang apa di dalam? Boleh Ayah masuk?” kataku sambil mengetuk pelan pintu kamarnya.

Tiba-tiba, suara tangisannya menghilang.

“Sayang…, ini Ayah. Bolehkan Ayah masuk?”

Pintu-pun terbuka dengan Permata, anak semata wayangku, di depanku. Wajahnya memerah dengan mata sembab dan berkaca-kaca. Rambutnya yang hitam panjang sebahu tampak awut-awutan. Bajunya yang berwarna merah jambu dengan gambar bunga-bunga kecil, basah oleh air mata dan keringatnya.

“Loh kok…, kenapa putri Ayah menangis? Biasanya putri Ayah selalu ceria. Ada apa gerangan? Boleh Ayah tahu ada apa?” kataku yang langsung berjongkok di depan Permata sambil memegang bahunya dan menyeka air matanya.

Belum lagi Permata menjawab pertanyaanku. Ia langsung saja menabrakku dengan pelukannya, lalu menangis kembali dan berkata, “Ibu jahat, Ayah. Ibu jahat!”

“Loh…, kenapa Ibu jahat? Masa sih, Ibu jahat sama Permata yang cantik dan baik hati,” kataku sambil mengangkat dan menggendongnya lalu menuju ke tempat tidurnya. Kuletakkan ia di kasur dan aku duduk di sampingnya. Ku elus-elus rambutnya yang halus seperti sutra. Kupancarkan senyuman kepadanya untuk mencoba meredakan tangisannya.

Sedikit demi sedikit tangisannya mulai mereda dan akhirnya berhenti. Wajah Permata memancarkan rasa sedih karena ia barusan dimarahi sama Ibunya, yaitu istriku. Sebenarnya aku-pun agak heran juga, tidak biasanya istriku marah terhadap anak semata wayangnya ini. Biasanya ia sangat lembut dan penuh kasih sayang didalam mengurus Permata.

“Ayah… Ibu kok jahat sama Permata? Tadi Permata dimarahi sama Ibu. Permata sedih, Ayah. Kenapa Ibu sampai memarahi Permata seperti tadi, Ayah?” kata Permata sambil mau menangis kembali.

“Eee…, kok mau nangis lagi… Enggak apa-apa kok, Ibu tidak jahat dan tidak marah sama Permata. Memangnya, kenapa Ibu sampai demikian sama Permata?”

Permata diam sebentar. “Tadi Permata belum mengerjakan salat lalu ditegur sama Ibu. Namun, Permata belum juga mengerjakan salat karena Permata masih mau menyelesaikan PR Permata dulu, Ayah. Lalu Ibu datang kembali dan menanyakan apakah Permata sudah salat. Setelah Ibu tahu bahwa Permata belum salat juga, lalu Ibu memarahi Permata. Permata hanya diam pas dimarahi sama Ibu. Setelah Ibu pergi, Permata jadi sedih, mengapa Ibu yang biasanya baik sama Permata tapi kali ini kok tidak. Permata jadi sangat sedih, Ayah.”

“Ooo…, begitu. Nah, sekarang Permata sudah salat belum?”

Permata mengangguk.

“Bagus…, itu baru namanya anak Ayah dan Ibu yang cantik dan pintar. Permata tahu nggak, kenapa Ibu sampai marah sama Permata karena Permata melalaikan salat. Itu berarti…, Ibu sayang sama Permata. Ayah dan Ibu memang sangat senang bila anak Ayah dan Ibu rajin didalam mengerjakan salat. Ayah dan Ibu tidak mau Permata masuk Neraka dan disiksa sama Allah SWT, nanti di Akhirat. Permata tahu kan, bila ada orang yang tidak mengerjakan salat maka ia akan disiksa dan dimasukkan oleh Allah SWT, ke dalam Neraka Jahannam selama-lamanya. Iiiiihhh…, ngeri kan,” kataku menggeliat dan memasang wajah takut sambil bercanda.

Permata pun tersenyum.

“Ok…, sekarang Permata harus janji…, untuk tidak melalaikan salat lima waktu lagi, bagaimana?”

“Iya, Ayah. Permata janji tidak akan melalaikan salat lagi,” katanya sambil memelukku.

Aku-pun memeluknya, mencium keningnya sambil berdo’a di dalam hati, “Ya Allah…, ampuni dosa-dosa kami, ampuni dosa-dosa kedua orang-tua kami dan jadikanlah keturunan kami, anak-anak yang sholeh dan sholehah yang ta’at kepada perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Aamiin.”

“Ayah…, Ayah…, kata Ibu Guru, di surga itu ada Bidadari ya?”

“Iya, benar.”

“Apa Bidadari itu cantik, Ayah?”

“Sangat cantik. Bahkan kecantikannya tiada tara.”

“Ayah…, apakah Permata kalau sudah besar nanti akan secantik bidadari?”

Aku-pun tersenyum. “Iya…, kalau kamu besar nanti akan secantik Bidadari. Karena kamu, bagi Ayah dan Ibu, adalah Bidadari yang menghiasi rumah ini.” Permata-pun tersenyum. Terlihat gigi-giginya yang masih belum rapih. “Tapi Permata, kecantikan wajah itu tidaklah penting, yang terpenting adalah kecantikan hati, disini…, dihati,” kataku menambahkan sembari menunjuk ke dadanya.

“Iya, Ayah…”

“Sudah ya…, Ayah keluar dulu. Salam’alaikum sayang.”

“Wa’alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh, Ayah,” kata Permata sambil mencium tangan kananku.

Aku-pun keluar dari kamarnya.

Memang. Terkadang didalam rumah-tangga, apabila ada salah satu orang-tua yang keras didalam mendidik anak-anaknya, maka harus ada orang-tua yang bersikap lembut sebagai penyeimbangnya. Sehingga nantinya tidak akan menimbulkan suasana rumah-tangga yang memanas, yang berdampak akan adanya tekanan mental yang berlebihan pada anggota keluarga. Kalau bisa, kedua orang-tua haruslah bersikap lembut didalam mendidik anak-anaknya supaya tidak menurunkan sifat-sifat kasar dan pemarah pada anak-anaknya nanti.

Di suatu Minggu pagi.

“Ayah…, Permata pamit dulu, ya. Ntar Permata kasih kabar kalau sudah sampai di tempat piknik lewat Hand Phone Ibu, ya Bu ya…”

“Iya, iya…,” kata istriku. “Aku pamit juga, ya Mas,” sembari mencium tangan kananku.

Kami-pun saling berangkulan dan memberi salam.

“Salam’alaikuuum,” kata mereka berdua.

Di hari Minggu ini, sekolahnya Permata mengadakan acara piknik bersama. Mereka berencana pergi ke Bogor untuk mengunjungi Taman Safari dan Kebun Raya Bogor. Seharusnya, Aku-pun harus pergi juga bersama mereka. Namun, Aku sudah memiliki janji yang tidak boleh kuingkari. Aku sudah janji untuk menemui klien-ku yang membutuhkan pertolongan untuk dibela di ruang sidang pengadilan . Kasus yang akan kutangani ini cukup serius. Kasus korupsi yang menelan uang triliyunan rupiah. Tapi kali ini, aku harus membela si tertuduh karena si tertuduh telah lebih dahulu meminta tolong kepadaku untuk melawan pengacara-pengacara terkenal yang membela pemerintah. Walaupun mungkin, orang yang akan kubela ini memang benar korupsi, aku harus tetap membelanya sampai berhasil. Aku tahu, membela orang yang salah adalah salah, tetapi aku tidak punya pilihan lain karena aku juga sudah terikat sumpah jabatan sebagai pengacara dimana seorang pengacara harus selalu siap untuk membela semua perkara orang-orang yang meminta pertolongan jasanya. Itu kode etiknya.

Semua berkas yang telah kupersiapkan tadi malam telah kutaruh di dalam mobil. Dengan Bismillah, aku-pun berangkat. Baru tiga puluh menit berlalu saat aku masih menikmati kemacetan di jalan raya. Telepon genggamku berbunyi.

“Selamat pagi, Pak. Apa benar Bapak yang bernama Muhammad Yusuf?”

“Benar, Pak. Ini dari siapa, ya?”

“Kami dari Kepolisian Satlantas Bogor, Pak. Kami mau mengabarkan berita duka untuk Bapak.”

“DEGGG!!!” Hatiku tersentak kaget. “Berita duka, Pak? Berita duka apa?”

“Sekarang, di jalan tol menuju Bogor sedang terjadi kecelakaan beruntun, Pak. Setelah kami melakukan pemeriksaan terhadap para korban. Teridentifikasi bahwa ada keluarga Bapak, yaitu istri dan anak Bapak yang menjadi korban kecelakaan. Sekarang mereka telah dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati dan kini berada di ruang gawat darurat. Mungkin cuma itu yang bisa kami kabarkan kepada Bapak.”

“Innalillahi wa inna Ilaihi roji’un. Allahu Akbar! Istri dan anakku dalam keadaan kritis. Kendaraan mereka mengalami kecelakaan. Ya Allah…, masih adakah harapan untuk mereka?” kataku membatin. Cepat aku membanting setir untuk mencari jalan pintas menuju ke Rumah Sakit Fatmawati. Tidak kuhiraukan lagi semua rambu-rambu lalu-lintas. Kunyalakan lampu depan mobil yang menandakan aku dalam keadaan terdesak waktu.

Sesampainya di Rumah Sakit Fatmawati. Setelah kutanya lewat bagian informasi dimana pasien yang baru datang akibat kecelakaan di jalan tol dengan nama istri dan anakku. Mereka menunjuk ke kamar darurat. Kularikan kakiku dengan cepat untuk sampai disana. Setelah kubuka pintu ruang darurat itu. Ramai sekali para dokter yang menangani para korban. Namun, aku masih belum boleh masuk dan diminta untuk menunggu di ruang tunggu.

“Ya Allah… Selamatkah istri dan anakku? Bagaimanakah keadaan mereka?” dalam keadaan tidak menentu, aku mencoba menghubungi para keluargaku untuk memberitahu hal ini serta memberitahu pegawaiku untuk menemui klienku dan memberitahu bahwa aku berhalangan datang kesana.

“Bapak Muhammad Yusuf!” panggil salah satu dokter.

“Ya, saya Dok.”

“Mari ikuti saya, Pak.”

Dibawanya aku ke suatu ruangan dokter. “Silahkan duduk, Pak.”

“Dokter, bagaimana istri dan anak saya? Bagaimana keadaannya?” kataku cemas.

“Hhhmmm…” Dokter itu menarik dan menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Pertama-tama..., saya ingin mengucapkan ma’af kepada anda karena kami tidak bisa menolong istri anda, sedangkan anak anda sekarang dalam keadaan kritis. Kondisinya sekarang koma, banyak bagian tubuhnya yang remuk dan patah. Untuk saat ini, kami belum bisa berbuat apa-apa, hanya menunggu perkembangan selanjutnya dari anak anda.”

“Ya Allah… Allahu Akbar! Inna lillahi wa inna Ilaihi roji’un. Telah Engkau ambil istriku dari sisiku. Dan sekarang, anakku dalam keadaan kritis.”

Tidak bisa kubayangkan apa yang telah terjadi. Tubuhku sudah merasa lemas semua. Keringat dingin bercucuran bak mata air. Mataku sedikit berkunang-kunang. Tapi aku masih sadar. Dengan jalan yang bergontai, aku menuju ke ruang jenazah. Fikiranku sedikit mengambang. Tapi aku berusaha untuk terus sadar.

Sesampainya di kamar jenazah. Kulihat jasad-jasad kaku terbujur di tempat tidur ditutupi kain berwarna putih. Suara tangisan dari keluarga yang lain seperti mau membelah bumi. Kucari istriku. Pas di pojok dinding, kulihat wajah yang tidak asing lagi. Wajah yang dulu penuh cinta kepadaku. Wajah yang dulu selalu tersenyum kepadaku. Wajah yang dulu pernah bersamaku, berjanji menjalin ikatan suci di pelaminan. Wajah itu, wajah istriku. Kudatangi perlahan jasadnya. Kupandangi wajahnya. “Ohhh…, aku tak sanggup. Hatiku menjerit. Tangisanku mau meledak. Tapi kalau saja aku tidak ingat sama Tuhan. Aku pasti sudah bergabung dengan orang-orang yang meratapi kepergian keluarganya itu. Aku berusaha tersenyum melihat wajah istriku. Kusapa ia dengan salam. Kuucapkan do’a untuknya supaya ia mendapat ampunan dari Allah swt dan tempat yang layak di sisi-Nya. Setelah itu kukecup keningnya. Kututupi wajahnya dengan kain putih. Sekali lagi. Ku berdo’a untuknya.

Kembali aku menuju ke ruangan gawat darurat. Saat menuju kesana. Datang serombongan keluargaku dan keluarga istriku. Mereka memelukku satu persatu. Mencium pipi dan keningku dan berusaha menghiburku. Sebagian dari keluargaku dan keluarga istriku menangis. Langsung saja aku menunjukkan dimana jasad istriku berada. Sebagian kesana dan sebagian lagi ikut denganku ke ruang gawat darurat, dimana Permata berada.

Sampai sore hari, Permata belum boleh dikunjungi. Baru setelah malam harinya, kami boleh masuk ke kamarnya dirawat.

“Permata sayang, ini Ayah. Permata sayang, ma’afkan Ayah, Nak. Ma’afkan Ayah…” kataku lirih dan tidak dapat meneruskan kata-kata. Yang kubisa hanya membelai lembut kepalanya yang sudah dicukur botak karena ada jahitan di kepalanya.

Pas jam sepuluh malam.

“Aayaaahhh…” suara Permata pelan.

Kami yang sudah duduk di kursi langsung berhamburan menghampiri Permata.

“Iya, sayang. Iya, sayang. Ini Ayah, sayang.”

“Aayaaahhh… Sakiiitt.”

“Iya sayang. Ayah tahu. Sabar ya… Insya Allah, Allah akan menyembuhkan Permata.”

“Aayaaahhh… Ibu mana…?”

Ya Allah…, mendengar anakku bertanya tentang Ibunya, aku hanya bisa diam.

“Aayaaahhh… Ibu mana…?”

“Ibu…, Ibu ada sayang..., tapi sekarang sedang tidak disini.”

Permata diam. Matanya melirik kesana dan kemari seperti mencari sesuatu. Sesaat, bibirnya bergerak tersenyum.

“Ayah… Bidadari itu sudah datang. Mereka melihat kepadaku, Ayah. Wajahnya sangat cantik sekali, Ayah.”

Aku dan keluargaku bingung. Kami tidak bisa melihat apa-apa.

“Sayang…, Bidadarinya mungkin datang untuk mendo’kan Permata. Mereka sangat senang bila Permata sehat,” kataku untuk menghiburnya.

“Tidak, Ayah. Kata mereka, mereka datang untuk menjemput Permata. Mereka tersenyum pada Permata, Ayah.”

“Ya Allah…, apakah ini yang dinamakan ajal dengan malaikat mautnya yang akan menjemput anakku? Kalau memang iya, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali membantunya mengucapkan kalimat tauhid.”

“Ayah…, Bidadarinya menghampiri Permata. Mereka menjulurkan tangannya, Ayah.”

“Permata. Bidadarinya mungkin mau mengajak Permata bermain-main ke surga. Kalau begitu, Permata harus siap ya sayang. Mari Ayah bimbing, coba Permata mengucapkan kalimat dua syahadat seperti yang telah Ayah ajarkan. Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah… wa ash-hadu anna muhammad rasulullah…”

“Ash-hadu an laa… ilaaha illa Allah… wa ash-hadu anna… muhammad rasulullah…” Dengan terbata-bata, akhirnya Permata dapat mengucapkan kalimat tauhid dengan lancar.

Tanpa kalimat tauhid yang sempat terucap sebelum mati, sangat mustahil seorang Muslim akan masuk surga. Kalimat tauhid merupakan kuncinya pintu surga. Dan jika seseorang belum juga mengucapkan kalimat tauhid sebelum ajalnya tiba, maka ia dipastikan mati dalam keadaan kafir. Neraka-lah tempatnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Perlahan…, mata Permata sedikit demi sedikit tertutup. Kulit tubuhnya berangsur-angsur memucat, dingin. Sebuah senyum manis terukir di bibirnya. Wajahnya ceria. Ia telah puas. Puas bertemu dengan Bidadari yang sangat cantik. Bidadari yang selalu diimpikannya untuk bertemu.

Semua keluargaku menangis. Hanya aku yang tersenyum. Kuusap wajah Permata dan mentelungkupkan tangannya ke dadanya seperti ia sedang salat. Kuciumi keningnya sekali lagi dan sambil berucap, “Tidurlah dengan tenang, sayang. Temani Ibumu yang sudah menunggu disana. Katakan pada Ibumu. Aku menyayangi kalian berdua. Dan semoga Allah swt, juga mengasihi kalian berdua. Selamat jalan sayang. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.”

Kutarik nafas panjang. Semua keluargaku memelukku. Kemudian aku keluar dari kamar itu. Kucari sebuah musholla. Lalu disana aku mengadu kesedihan kepada-Nya.

Besoknya. Kukuburkan jenazah istri dan anakku berdampingan di sebuah pemakaman khusus untuk keluarga. Saat itu, suasana begitu teduh disana. Pepohonan yang rimbun menambah kesejukan disekitarnya. Terdengar suara burung-burung berkicauan di atas pohon sana. Harumnya bunga melati dan kamboja, menusuk hidung mewangikan sekitar.
Setelah acara pemakaman selesai. Kini yang tinggal disitu hanyalah Aku. Kupandangi dua makam yang berisi orang yang sangat kusayangi. Sekali lagi, kubacakan do’a-do’a untuk mereka berdua sambil melihat ke sebidang ruang tanah lagi di samping makam mereka berdua…, dimana itu nanti…, adalah tempatku kelak.
---------------------------------------------------------------------------

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam surga-surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Q.S. al-Hajj : 14).

“Di dalamnya ada bidadari yang menundukkan pandangannya yang belum pernah disentuh manusia dan jin sebelumnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka laksana permata yaqut dan merjan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Tiadalah balasan kebaikan itu melainkan kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. ar-Rahmaan : 56 – 61).

Thursday, July 20, 2006

Puisi: Semangat Cinta



Jangan...
Jangan gentar barang sedikitpun
Tunjukkan bahwa engkau adalah sebuah sinar
Sinar terang yang berkemilauan
Penuh dengan pesona berbinar

Dayung...
Dayung perahu semangatmu
Penuhi ia dengan bahan bakar kesabaran
Basahi dengan air tawadhu'
Hingga datang sebuah ketenangan

Tenang...
Tenang seperti malam

Mengalir...
Mengalir seperti air

Hiduplah dengan jiwa bahagia
Tumbuhkan bunga harum menusuk jiwa
Yang menggelorakan semua cinta
Merasuki semua jiwa-jiwa

Ooo...
Datanglah cinta
Penuhi aku dengannya
Cinta yang tertuju pada Allah semata

Allah...
Allah...
Allah...

Allah...
Allah...
Allah...

Allah...
Allah...
Allah...

Monday, July 10, 2006

Puisi: Menyatulah Dua Hati


Mencari hati
Haruslah berhati-hati
Supaya di kemudian hari
Tidak mesti disesali

Butuh waktu berkali-kali
Untuk saling menyelami
Menyatukan dua hati
Yang berbeda patri

Harus kita akui
Gelombang kan datang pasti
Menghanyutkan dua janji
Yang telah setali

Tapi juga yakini
Gelombang itu kan menjadi sepi
Dengan kepastian janji
Antara dua hati

Menyatulah wahai dua hati
Penuhi dengan kasih asli
Hindari prasangka diri
Yang dapat membuat rugi

Sayangi...
Kasihi...
Cintai...

Sunday, June 25, 2006

Puisi: Surya Mencari Hati


Surya mencari hati
Bersih tak ternoda
Lenyapkan bayang hitam
Bentengi dari retak iman

Teruslah mencari
Temukan kepuasan rasa
Jangan sampai mata terpejam
Hingga hilang kenikmatan

Disana terbentang surgawi
Harum wangi menggoda
Banyak rasa yang terpendam
Berjuta nilai kenikmatan

Hanya nilai kemurnian hati
Menjadi timbangan rasa
Walau halangan mencekam
Jadikan buah kemilauan

Ya Allah Ya Rabb

Bukalah mata hatiku
Agar terpaut antara Kau dan aku
Lebur menjadi satu
Hingga hilang rasaku

Tuesday, June 20, 2006

Puisi: Aku Kini Pasrah...


Tujuh langit telah terbelah
Terdesak kilat cerah
Lenyap sudah rasa pongah
Tunduk pada wujud Allah

Sesaat hadirkan remah
Cinta kasih karena resah
Takutkan diri jadi punah
Lebur dengan api merah

Hati ini mulai mendesah
Terseret arus gelisah
Kemana kaki kan melangkah
Tak tahu kemana arah

Pandangi langit yang memerah
Buasnya kan memecah
Meluncur bagai anak panah
Menerpa semua wajah

Allah...

Allah...

Allah...

Allah...

Allah...

Allah...

Allah...

Allah...

Allah...

Aku kini Pasrah...

Sunday, April 16, 2006

Puisi: Untuk Irham dan Afif dari seorang Kakak


Adikku Irham dan Afif...
Pada hari ini telah kutorehkan tinta untuk kalian
Yang nanti kan diharap untuk di ingat
Pada suatu masa dimana kalian telah dewasa

Goresan tinta ini untuk kalian berdua
Dan juga bisa untuk adik-adikku semua
Baik dari Ayah dan Ibuku
Juga dari Om dan Tanteku


Ingatlah...
Kalian telah terlahir ke dunia atas kehendak Ilahi
Dititipkan kepada dua orang tua
Yang telah melahirkan dan menafkahkan kalian
Dua orang tua yang sangat mencintai kalian
Rela berkorban apa saja untuk menyenangi kalian
Di kala suka dan duka
Di kala sempit dan senggang

Dimana pengorbanan keduanya tidak akan terbalas
Dengan kasih sayang seorang anak
Dengan harta seorang anak
Maupun dengan nyawa seorang anak


Irham dan Afif...
Bahagiakan orang tuamu...
Kasihi orang tuamu...
Sebagaimana mereka telah melakukannya

Do'akan selalu Abi...
Do'akan selalu Ummi...
Pelihara mereka dengan perkataan dan perlakuan baik
Dikala mereka sudah tua nanti

Jangan mendurhakai orang tuamu...
Jangan menghardik orang tuamu...
Jangan meninggalkan orang tuamu...
Jangan lupakan oarang tuamu...

Ingatlah adikku...
Akan nasehat kakakmu ini...
Karena nasehatku ini...
Adalah warisan Rasulullah untuk kita semua...

Sunday, March 19, 2006

Puisi: Mau Kemana kah kita...?

Kita...
Yang selama ini sering disebut sebagai makhluk mulia
Yang selama ini telah menyandang berbagai kesempurnaan
Yang selama ini selalu nomor satu dari makhluk lainnya
Masih saja belum tahu akan kemana arah hidup di dunia

Berbagai perbuatan kotor masih kita lakukan
Berbagai perbuatan hina masih terselubung dalam tingkah laku

Apakah...
Masih belum cukup nasehat-nasehat yang datang?
Masih belum cukup Nabi-nabi yang diturunkan?
Masih belum cukup Kitab al-Qur'an sebagai petunjuk?

Memang...
Manusia itu makhluk yang tidak pernah puas
Selalu mencari pembenaran dalam kesempatan
Terkadang, merasa dialah Tuhan

Mengapa belum juga tahu kemana kita akan pergi?
Apakah memang tidak tahu atau tidak mau tahu?

Kita adalah manusia
Makhluk mulia... katanya
Makhluk sempurna... katanya
Tapi..., masih belum tahu... akan kemana kita nanti...


Aligarh - India
19 Maret 2006, 12.00.

Sunday, March 05, 2006

Cerpen: Cintaku di India (Bag. 2)

“Hallo Hanny…, lagi ngapain lo…, lagi di rumah ya…, suntuk gak? Kalo lagi suntuk, kita ketemuan di kafe tempat biasa yuk!” Baris-baris kata yang terangkai di dalam pesan singkat (sms) Rani terhadap temannya Hanny, telah terkirim dengan selamat.

*****

“Hanny baca gak ya sms dari gue… Wah gawat kalo dia kagak baca tu sms. Bisa-bisa gue beku di kafe ini…” pikir Rani cemas karena telah 20 menit menunggu Hanny di “Kafe Tungkring” tempat mereka biasa nongkrong.

Sambil memesan kembali segelas jus tomat, Rani menabahkan hatinya untuk sabar menunggu sampai 10 menit lagi, “Biar pas 30 menit” katanya.

Pas Rani lagi meneguk jus tomat…

“Woiii! Ha ha ha…”.

Rani-pun kaget dan hampir saja jus tomatnya terminum sekali telan.

“Duuuh…, segitu doang pake kaget segala…” canda Hanny.

“Dasar lo ye…, dateng-dateng bukannya ngucapin salam eh malah ngagetin orang” Rani megap-megap hampir keselek dan sedikit sewot dengan sahabatnya itu. “Kalo bukan elo tadi Han…, sudah gue siram nih pake jus tomat!”.

“Ha ha ha ha ha…” Hanny tertawa lebar sampai terlihat gigi-giginya yang putih dan tersusun rapih berkat menggunakan kawat gigi selama sebulan di bulan yang lalu. “Iya deh sorry… Eh…, ada apa nih tiba-tiba kok suntuk, ini kan masih tanggal muda kok sudah suntuk begitu…”.

“Tau nih Han. Dari tadi pagi, gue gak mood mau kerja di kantor, walhasil, kerjaan gue banyak yang gue tunda hari ini termasuk rapat penting dengan pengusaha tekstil” Rani-pun membuka cerita.

“Emangnya ada yang lagi elo pikirin? Masalah cowok ya…?” tebak Hanny.

“Mmm…, enggak juga sih…, eh tapi…, benar juga sih” wajah Rani jadi memerah karena tebakan yang tepat dari Hanny.

“Emangnya ada cowok yang elo taksir sekarang?”

“Ngng…, ada sebiji…” jawab Rani malu-maluin.

“Ha ha ha…, baru kali ini gue liat elo begitu gak confidence Ran… Biasanya elo wanita yang sangat percaya diri, bahkan elo sangat perfect memimpin perusahaan lo. Tapi kok, untuk masalah cowok, gue liat elo sepertinya masih ragu kalo elo sekarang sedang suka sama seseorang”.

“Entahlah Han… Sepertinya dia sangat berbeda dari lelaki yang lain…”.

“Berbeda gimana…? Apa dia punya tanduk???” ledek Hanny.

“Gila lo…, emang gue suka sama kambing…” Ranny jadi sewot. “Eh…, ngomongnya ntar aja ya, sekarang elo mau makan dan minum apa, gue yang traktir nih” Rani mencoba meng-cancel pembicaraan masalah cowok yang ada di dalam fikirannya.

“Duuuh yang baru gajian…, ok deh, gue pesen kambing guling satu, nasi goreng special dan minumnya banana jus di susul dengan es krim campur” jawab Hanny enteng.

Rani-pun bengong. “Eh…, elo rupanya belum makan dua hari ya…, pesannya banyak amat?”.

“He he he he he… Gue sih makannya dikit Ran, tapi kucing gue di rumah makannya banyak, maksud gue, ntar kalo gak habis kita bungkus…” jawab Hanny enteng.

“Ampuuun Hanny…, elo kayak apaan aja, kucing pake elo pikirin segala di kafe ini. Kucing mah dikasih makanan kucing, jangan elo beri makanan enak melulu, ntar die jelma jadi lelaki lagi, nah, baru berasa deh lo”.

“Ha ha ha ha ha ha………” mereka berdua-pun tertawa terkekeh-kekeh.

*****

Bersambung...

Tuesday, February 28, 2006

Cerpen: Antara Mahasiswa, Preman dan Seorang Bapak

Di suatu siang hari bolong di musim panas, udara panas yang menyengat telah membuat semua orang yang hilir mudik di jalan raya kelimpungan. Bayangkan, 40 derajat celcius! Siapapun orangnya pasti akan tersiksa kegerahan. Tidak heran warung es tebu, warung lassi dan warung cold drink lainnya telah ramai dikunjungi oleh pembeli.

Saat itu juga, saya beserta teman-teman yang satu perjuangan menuntut ilmu di negeri "Ghandi", juga tergiur untuk menikmati cold drink berjejer bak Pragawati yang berjalan di catwalk dengan menawan. Terbayang begitu nikmat bila minum cold drink di siang hari bolong dengan udara panas sambil menikmati pemandangan di jalan raya.

Saat asyik menikmati cold drink dan lassi, tiba-tiba jalan raya menjadi macet mendadak. Mobil, motor, Rikshaw dan sepeda terhenti laju jalannya. Anak-anak sekolah yang menaiki rikshaw telah terlihat tersiksa oleh temperatur yang sangat panas itu, mereka kegerahan dan kehausan, namun apa daya, jalan telah menjadi macet.

Rasa keingin-tahuan saya dan teman-teman terusik juga, "Ada apa gerangan?". Kami-pun akhirnya keluar dari warung penjaja minuman untuk melihat "sikon" yang terjadi.
"Wuih..., panjang tenan, Rek!!!" kata Joko, mahasiswa dari Jogya yang
mengambil Ilmu Matematika.

"Iya bener, gila..., kok jadi macet begini!!!" kate Ical, mahasiswa dari Jakarta yang mengambil Ilmu Psikologi.

"Masya Allah..., bukan main..., panas-panas begini pakai macet segala" kata saya, mahasiswa dari Aceh yang mengambil Ilmu Ekonomi.

"Cal..., yok kita tengok dhi sana..., sepertinya adha sesuatu yang membuat jhalan ini machet" kata Joko dengan logat Jhawa-nya.

"Bener juga tuh..., gue jadi penasaran ade ape. Yuk, Min! Kita liat!" kata Ical menarik tangan saya.

Sesampainya di tempat kejadian, ternyata ada seorang preman yang sedang marah-marah sama tukang biryani. Selidik punya selidik, ternyata preman itu tidak mau bayar makanan yang telah dilahapnya. Jadi mereka ribut sampai ke tengah jalan.

Melihat kejadian yang seperti itu, Ical jadi gatel juga tangannya untuk ikut campur, apalagi dilihatnya ada preman yang mau bikin kacau, maklumlah, Ical ini dari keluarga turunan Pendekar, jadi tidak bisa melihat kesewenang-wenangan yang terjadi di depan matanya. Tanpa kami sadari, Ical telah berada di antara si Penjual biryani dan si Preman.

"Eh, Bang..., ade ape lu bedua..., elu pade kagak tau ape ni jalan jadi macet gare-gare lu pade!" hardik Ical dengan logat betawinya.

"Hei anak kecil!!! Jangan ikut campur urusan aku, minggir kau!!! hardik si Preman sambil mendorong Ical.

"Hei..., kagak bisa bang..., elu sudah sangat salah dan kudu diberi tau. Elu sudah makan kagak bayar, eh malah bikin ribut di sini sampe ni jalan jadi macet!!!" hardik Ical lagi sambil membalas dorongan si Preman dan menyuruh si Penjual Biryani minggir.

"Hei Bangsat!!! Kau anak kecil belum pernah dihajar ya! Aku ini preman di daerah ini. Aku punya authority di tempat ini. Jadi terserah aku, mau makan tidak bayar, mau minta duit ke orang-orang, mau bicara keras-keras..., aku punya HAK!!!" kata Preman yang kini sudah berhadapan dengan Ical.

Melihat situasi yang menjadi tidak karuan itu, Joko menjadi cemas juga, dia berusaha mau menarik Ical, pergi dari tempat kejadian itu, tapi saya melarangnya, karena saya juga mendukung tindakan Ical yang mau membenahi kesewenang-wenangan yang terjadi di sini. Jadi, kalaupun Ical sampai bentrok sama Preman itu, mau tidak mau, saya-pun harus berhadapan dengan Preman itu juga untuk menolong Ical.

"He anak kecil!!! Mau minggir nggak!!! Sebelum aku nampol bogem mentah di muka kau!!!" Preman itu menjadi mengancam.

"He he he he he..." Ical malah cengengesan. "Boleh juga, mari kite adu kemampuan kite, siape yang tahan di sini, he he he..." Ical langsung ambil kuda-kuda yang mantap seraya siap-siap mengeluarkan jurus Cimande ajaran Kakeknya yang turun menurun telah dikeramatkan.

"HHHIIIIAAAAAT!!!" si Preman mengeluarkan tonjokannya.

"Zeb zeb zeb..." si Ical mengelak mundur selangkah. "Ayo, Bang..., keluarkan lagi kemampuannye..., sampe berape jurus lu bisa!!!" si Ical sengaja membuat panas hati si Preman. Gimana enggak panas..., di siang hari bolong dengan udara yang membakar, ada mahasiswa tanggung yang mencoba menghalangi maksud di Preman. Bukan main..., pasti sangat panas tu hatinya Preman.

"HHHIIIAAAAAT...., BRAKK BRAAKKK DUUUKKK!!!" si Preman kembali mengeluarkan tendangan ala Bruce Lee nya yang akhirnya malah menerobos menendang meja dan dinding.

"Aduh...aduhhh... huuuu kakiku...." rintih si Preman kesakitan.

Melihat si Preman lagi kesakitan dan terlihat lengah. Ical datang menghampiri. "He he he..., baru segitu kemampuan elu, baru kena meja sama dinding aja udeh mengaduh kesakitan, apalagi elu kena kaki gue ni..." kate Ical mengejek.

"Heiii..., ada apa nih!!!" tiba-tiba ada seorang Bapak-bapak yang telah berumur langsung melerai mereka berdua. Setelah diterangkan sama Ical mengenai kejadiannya. Bapak itu langsung meminta Ical menyudahi permasalahan itu dan meminta kami pulang. "Biar saya yang mengurus Preman kampung itu" kata Bapak tadi. Lalu Preman tersebut dibawa oleh Bapak tadi beserta Tukang biryani untuk dibawa ke kantor Polisi.

Akhirnya..., jalan raya-pun kembali mengalir seperti biasa dengan tatapan semua orang yang tertuju kepada kami.

"Cal!!! Gila engkau yah..., berani benar engkau mau ngapain Preman itu. Kalau dia dendam dan bawa temannya bagaimana?" kata Joko was was.

"Joko..., Joko..., kita itu sebagai mahasiswa harus berani menentang ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan, jangan takut! Jangankan Preman, Pejabat yang tidak mau dikritik dan tidak mau bertindak benar-pun harus kita lawan!!!" kata Ical dengan nada berapi-api. "Benar kagak, Min!!!" kata Ical seraya minta dukungan dari saya.

"Benar-benar..., kita harus berjuang untuk berusaha menjadikan lingkungan kita bersih dan sehat dari hal-hal yang buruk yang dapat membuat kesehatan kita terganggu" jawab saya enteng.

"Tuh, kan..., Amin aje ngedukung ape tindakan gue. Ha ha ha...gue jadi puas ni hari, bisa olah raga!"

"Ha ha ha ha ha........" Akhirnya kami bertiga pun tertawa bersama.

"Ical...Ical..., dasar Betawi!" kataku dalam hati.

"Hei..., minum lagi yuk!!! Gue jadi tambah haus ne...!" ajak Ical.


Oleh: Fadllan Achadan.
28 Februari 2006, 14.00 Waktu India.
(Ba'da Melihat Milis PPI India).

Tuesday, January 24, 2006

Puisi: Ibu... Ibu... Ibu..., Ayah.


Ibu...
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa

Ibu...
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam

Ibu...
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian

Ibu...
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku

Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu

Ibu...
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku

Ibu...
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu...
hanya do'a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas

Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu

Ibu..., I LOVE YOU SO MUCH
juga kepada Ayah...!!!

Saturday, January 07, 2006

Puisi: Kita Tidak Sendiri

Bersabar adalah bunga hati
Yang bila tidak disiram dengan keimanan akan mati
Penuhi diri dengan zikir pada Ilahi
Supaya dapat kasih sayang Allah yang hakiki

Hidup ini penuh dengan duri
Bagi hamba yang tekun mengabdi
Tetapi kita jangan bersedih hati
Karena Allah yang akan selalu menemani

Bila Allah telah hadir dalam diri
Maka tidak seorangpun akan menzalimi...

Ingatlah sahabat-sahabat sejati
Kita tidak sendiri...


Fadllan Achadan
Aligarh, 7 Januari 2006

Wednesday, January 04, 2006

Puisi: Lihatlah !!!

Lihatlah! Hatiku berbunga
Baunya harum mewangi
Warnanya beraneka
Membuat semua lebah jatuh hati

Lihatlah! Hatiku berbuah
Buahnya harum mewangi
Rasanya manis melimpah
Membuat semua serangga jatuh hati

Lihatlah! Lihatlah!
Hatiku menyatu
Menyatu dengan cinta kasih
Cinta kasih Ilahi Yang Satu



Fadllan Achadan
Aligarh, 23-12-2005.

Puisi: Katakan saja………

Katakan saja……jangan kau pendam !
Suara itu terus terngiang dalam fikiran,
Menyemangati perasaan yang sedang bimbang,
Katakan saja……apa susahnya ?

Memang, baru sebulan Ia kukenal
Tak dapat diam hatiku bergetar
Getaran yang tidak teratur denyutnya
Semakin dipendam semakin membara terbakar

Sudahlah……katakan saja !!
Apa susahnya untuk mengungkapkan ?
Jangan kau pendam jangan kau simpan
Tinggal katakan saja !!!

Terhuyung gontai aku melangkah
Tak tahu pasti kemana ku mengarah
Segunung luapan hati telah mengalir dalam darah
Seakan ingin mengeluarkan kata sepatah

Sekarang……ya sekarang……
Mantap sudah hatiku untuk bersuara
Tak kuhiraukan kesedihan yang akan kurasa
Dengan segala kejadian yang akan menimpa

Sekarang……ya harus sekarang……

Aku ingin berkata……

Tidak ada Tuhan kecuali Alloh !!!
Dan……
Muhammad adalah rasululloh !!!




Fadllan
02.00, 09-06-2004.
New Delhi, India.

Puisi: Tuntunan Kata Hati

Adalah hati yang akan menjadi Rajamu
Hati yang terdapat untaian kata yang murni
Membimbing kepada jalan yang lurus
Menghindari jalan kesesatan yang berliku

Siapa yang cenderung bertindak melalui kata hati
Akan selamat dirinya dan orang lain
Siapa yang cenderung menghindari kata hati
Tunggu sajalah kehancuran diri dipenuhi nafsu

Akan mulia seorang pejabat bila mengikuti kata hati
Dengan tidak melakukan korupsi

Akan mulia seorang pedangang bila mengikuti kata hati
Dengan tidak memanipulasi timbangan

Akan mulia seorang pelajar bila mengikuti kata hati
Dengan tidak mencontek kala ujian di sekolah

Akan mulia seorang manusia di bumi
Dengan tekun menegakkan ibadah shalat 5 waktu

Maka. Turutilah kata hatimu karena ia…
Akan menuntunmu pada jalan kebenaran.



Fadlan Achadan
Delhi, 10.40, 30 Juni 2004.

Puisi: Cinta

Kala cinta tumbuh di hati
Serasa ia penuhi diri
Makan tak enak tidur tak nyenyak
Tatkala getarannya selalu menyentak

Siang datang menunggu malam
Malam datang menunggu siang
Hilang cinta hidup kan kelam
Datang cinta repot bukan kepalang

Cinta sejati darimanakah datangnya
Semakin terasa semakin menjadi
Cinta sejati bukan dari seorang anak manusia
Cinta sejati adalah cinta kepada Ilahi


Fadllan
Delhi, Juni 2004.

Puisi: Bulan Merindu

Telah tiba malam beranjak menyelimuti alam semesta
Suasana gelap perlahan menampakkan kejelasannya
Bangunlah semua makhluk malam menyebar mencari rezeki
Tertidur pulaslah semua makhluk siang menuai mimpi-mimpi

Burung hantu tegak berdiri di atas sebuah dahan yang rindang
Sendiri memandang ke atas mencari sang bulan merindu
Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan
Akankah bulan merindu datang menjenguk untuk menyapa

Waktu berlalu burung hantu mantapkan hati untuk tegar
Terus menunggu pujaan hati datang membawa senyuman
Bulan merindu begitu sangat diidam-idamkannya
Walau badan goyah tidak makan karena menantinya

Secercah cahaya terang namapak dari kejauhan sana
Burung hantu sigap badan melebarkan mata memandang
Bulan merindu datang dengan elok dan cantiknya
Memenuhi janji dengan sang kekasih burung hantu

Senang hati burung hantu melambung jauh timbulkan semangat
Sang kekasih datang memenuhi janji membawa kebahagiaan
Bulan merindu memang elok dan indah dipandangnya
Sampai…tak kuasa jiwa hingga lepas terbang menyambut bulan merindu


Fadllan
11.53, 23-07-2004.
New Delhi, India.

Puisi: Yang Maha

Yaa Ilahii……
Telah Kau bukakan tabir ghaibMu kepadaku
Kau tunjukkan rahasia alamMu untukku
Kau tuntun jalanku menuju shiratMu

Yaa Ilahi……
Berapa banyak lagi ilmuMu Kau curahkan
Berapa banyak lagi karuniaMu Kau limpahkan
Berapa banyak lagi celupan cahayaMu menyinari

Yaa Ilahi……
Dapatkah diriku bersyukur ?
Dapatkah diriku ta’at padaMu ?
Ataukah aku malah kufur ?

Yaa Ilahi……
Menangis tersedu aku membasahi sajadah
Tatkala selalu mengingat diriMu
Yang Maha Rahman dan Maha Rahim

Yaa Ilahi……
Lapang dadaku kau tunjukkan jalan
Mantap hatiku dengan Iman kepadaMu
Tenang sudah jiwaku dengan Islam

Engkau Yang Terindah……

Engkau yang Elok……

Dzat Yang Maha Mulia……

……..ﷲﺍ………


Fadllan Achadan
11.37, 11-06-2004.
New Delhi, India.

Cerpen: Siti Nurjannah dan Mariam

"Kriiik kriiik kriiik..., Huu... huuu... huuu..., Guk guk guk Aauuuuuuuuu...!!!" Suara jangkrik, burung hantu dan anjing liar saling sahut-sahutan seraya memenuhi alam yang telah gelap oleh malam di sekitar Pemakaman Umum Kebun Karet, Dodhpur-Aligarh. Sesekali angin menghembus dengan perlahan merayapi tanah pemakaman itu yang menyebabkan semua pepohonannya menari secara lembut.

Malam yang dingin telah merubah suasana Pemakaman Umum itu menjadi mencekam bagi warga sekitar yang tinggal di daerah Dodhpur. Tidak ada lagi warga yang berani keluar apabila jam telah menunjukkan pukul 22 malam. Jangankan untuk keluar, mengintip dari jendela saja mereka tidak berani.

Karena tidak ada lagi orang yang lalu lalang di sekitar pemakaman itu, maka suasana di pemakaman itu setiap harinya hanya dipenuhi oleh suara jangkrik, burung hantu atau burung gagak, dan anjing liar.

Mencekam memang. Dan kesunyian yang disebabkan karena sepi itu telah dimanfaatkan oleh semua penduduk Pemakaman Umum Kebun Karet alias Ruh-Ruh dari mayat-mayat yang telah dikuburkan di sana.

Apabila jam telah menunjukkan pas pukul 22 malam, mereka keluar dari kuburannya masing-masing dan meramaikan Pemakaman Umum Kebun Karet itu dengan kegiatannya masing-masing.

Di salah satu kuburan itu, tinggallah seorang mayat wanita yang baru saja meninggal tadi siang, wangi bunga kamboja yang ditaburkan oleh sanak keluarganyapun masih menyengat terasa dan warna tanahnya saja masih merah menandakan tanah itu baru saja diurug. Siti Nurjannah namanya, wanita yang semasa hidupnya itu tinggal di sebuah rumah besar di sebelah Green Crescent Public School, sebuah sekolah yang cukup besar, yang dijadikan tempat kost oleh dua orang mahasiswa dari Indonesia, Zoelkamdi dan Dul Rohim.

Siti Nurjannah pun keluar dari kuburannya dengan secara perlahan lalu ia duduk di samping kuburannya seraya melihat sekeliling pemakaman umum itu yang telah penuh dengan ruh-ruh yang juga baru keluar dari kuburannya masing-masing.

Di sebelah kuburannya Siti Nurjannah, ada kuburan seorang mayat wanita juga yang telah meninggal dua tahun lalu karena gantung diri akibat suaminya kawin lagi dengan wanita lain setelah ia melahirkan anak keduanya.

Melihat teman barunya itu, Siti Nurjannah amat senang dan kemudian ia berkenalan dengannya. "Hallo apa kabar, siapa namamu?" tanya Siti Nurjannah. "Mariam" kata ruh wanita itu. "Rumahmu dulu dimana dan kamu mati karena apa?" tanya Siti Nurjannah lagi. "Rumahku dulu di Safdarjung Enclave New Delhi, dan aku mati karena gantung diri sebab aku kesal suamiku telah menikah lagi dengan orang lain" kata Mariam.
"Loh kok bisa dikuburkan di sini?" tanya Siti Nurjannah penasaran. "Iya, setelah mengetahui suamiku menikah lagi di Aligarh, akupun menyusul dia ke sini untuk memberi pelajaran kepadanya dengan menggantung diriku di depan rumah baru suamiku dengan istri barunya" kata Mariam sambil bersedih. "Ma'af ya, kalau aku telah membuatmu bersedih kembali" kata Siti Nurjannah meminta ma'af. "Tidak apa-apa, cuma aku kasihan sama dua orang anakku yang sekarang diasuh oleh Kakek dan Neneknya, mereka masih kecil-kecil" Isak Mariam.

Melihat Mariam menangis tersedu-sedu, Siti Nurjannah memeluknya seraya berusaha menghibur untuk menghilangkan kesedihan Mariam. "Eh Mariam, main kerumahku yang lama yuk, rumahnya tidak jauh kok dari sini, di sana enak loh, selain banyak bunga di tamannya dan yang terpenting adalah dua orang Mahasiswa AMU dari Indonesia yang tinggal di sebuah sekolah sebelah rumahku. Mereka sangat ramah dan biasanya kalau mereka sedang main badminton di sore hari, aku selalu menegur mereka" kata Siti Nurjannah bersemangat. "Ayolah kalau begitu" kata Mariam.

Lalu mereka berdua berjalan menyisiri pasar Dodhpur yang telah sepi, tampak sekali dari keadaan yang kotor bahwa di pasar ini sangatlah ramai dikunjungi orang pada siang harinya.

"Itu Mariam..., itu rumahku" Siti Nurjannah menunjuk ke bekas rumahnya. "Eh Mariam, kita nanti saja ya kerumahku, lebih baik kita ke sekolahan itu, disanalah tempat dua orang mahasiswa Indonesia itu tinggal".

Lalu Siti Nurjannah membawa Mariam menuju ke sekolah itu. Sesampainya di depan pintu salah seorang mahasiswa yang bernama Dul Rohim, Siti Nurjannah dan Mariam masuk ke kamar mahasiswa tersebut. Dilihat oleh mereka seorang mahasiswa yang sedang sibuk belajar, di mejanya berserakan bermacam buku yang akan dibacanya. "Rapih juga kamarnya, baru kali ini aku bisa masuk ke kamarnya" kata Siti Nurjannah. "Ho oh..." kata Mariam.

Dul Rohim yang sedang belajar, merasakan sesuatu yang menurutnya agak lain dari biasanya, bulu kuduknya merinding, jantungnya tiba-tiba saja langsung deg-degkan, "Eh, kok lain yah suasananya malam ini, sepertinya aneh dan tidak biasanya, apa karena baru ada yang meninggal tadi siang di rumah sebelah ya...?" Dul Rohim bertanya-tanya. "Wah, enggak iya nih..., ah..., lebih baik aku ke atas dulu ah menemui Bang Zoelkamdi" pikir Dul Rohim. Siti Nurjannah dan Mariam menahan tawanya, "Hi hi hi...". Lalu mengikuti Dul Rohim dari belakang.

"Salam'alaikum Bang Zoelkamdi!!!, buka pintu Bang, cepetan!!!". Pintu pun terbuka. "Ada apa lo, malam-malam begini ke kamarku, apa kagak tahu kalau tadi siang baru ada yang meninggal di sebelah!!!" kata Zoelkamdi. "Nah karena itu Bang, sekarang aku merasa lain, seperti ada sesuatu, aku boleh masuk Bang!!!" kata Dul Rohim. "Ah elo..., pake merasa sesuatu segala, emangnya elo dukun bisa merasa ada makhluk halus!" kata Zoelkamdi sedikit takut. "Udah deh Bang, biarin saya masuk biar kita aman" kata Dul Rohim sambil menyerobot masuk ke kamar Zoelkamdi.

Setelah mereka masuk dan menutup kamar. Siti Nurjannah dan Mariam pun ikut masuk ke kamar mereka dan langsung duduk di tempat menyimpan buku yang terletak di bagian atas dari kamar Zoelkamdi sambil memperhatikan dua orang mahasiswa Indonesia itu dengan senyum-senyum.

"Eh Dul, saya juga jadi merasa ada yang aneh nih" kata Zoelkamdi kepada Dul Rohim. "Naaah kaaan, saya bilang juga apa Bang, jangan-jangan ruh dari orang yang meninggal di sebelah tadi siang kali" kata Dul Rohim jadi tambah takut sambil merepatkan badannya ke badan Zoelkamdi. "Iya..., sepertinya aneh nih malam, eh Dul, jantung saya jadi deg-degkan nih, bulu kudukpun sudah pada berdiri semua, waaaah..., aneh nih malam!!!" kata Zoelkamdi membenarkan perkataan Dul Rohim.

Melihat dua orang cowok ganteng yang sedang ketakutan itu, Siti Nurjannah dan Mariam pun jadi tambah tertawa cekikikan. "Hi hi hi..., Mariam, lihat tuh, mereka bisa merasakan kedatangan kita di sini, dan kelihatannya mereka jadi takut, yuk kita tegur mereka bahwa kita ada di sini supaya mereka tidak tambah takut karena tidak bisa melihat kita" kata Siti Nurjannah. "Eh jangaaannn..., nanti mereka tambah takut" kata Mariam mencegah. "Enggak kok, mereka kan sudah kenal sama saya, mana mungkin mereka takut, mereka takut itu karena kita tidak terlihat oleh mereka" kata Siti Nurjannah menegaskan. "Ok deh kalau begitu, mari kita memperlihatkan diri kita" kata Mariam mengalah. Lalu Siti Nurjannah dan Mariam pun mengerahkan seluruh energinya supaya bisa terlihat oleh Zoelkamdi dan Dul Rohim. "TTRRREEEEENNNGGGG......!!!" nampaklah Siti Nurjannah dan Mariam.

Pas saat Dul Rohim menoleh ke atas tempat menyimpan buku, "HHHAAAHHH... ASSS... ASSSTAAGGG....ASSSTAAGGGGGG...." si Dul Rohim gelagapan tak bisa meneruskan kata-katanya. "Heeiii Dul, kenapa lo..., kok jadi gelagapan begitu!!!" kata Zoelkamdi bertanya keheranan karena melihat Dul Rohim jadi gagap dan pucat penuh keringan dingin. "AASSS... AASSSSTAGG...ASSTAAAGGGGG..." kata Dul Rohim masih gelagapan dan tanpa terasa celananya sudah basah di banjiri kencing. "Eh Dul!!! Kenapa lo jadi kencing di kamar gue!!! EEEE... enak aja lo, emang kamar gue toilet apa, kenapa siiiihhh???" si Zoelkamdi jadi marah bercampur gemetaran. Lalu Dul Rohim menunjuk ke arah atas, tempat penyimpanan buku lalu pingsan. Zoelkamdi yang telah mendapat petunjuk dari Dul Rohim lalu melihat ke atas juga, "HHUUUAAAAAHHHHH!!!!! A...A...A...ADA...ADA...ADA SSSSEEETAAAAAAAAANNNNN!!!!!" Zoelkamdi pun terperanjat sangat kaget karena telah melihat wujud dari Siti Nurjannah dan Mariam. "WWAAAAAA..... KAGAK KUAAAAAAAATTTTT!!!!!" kata Zoelkamdi langsung pingsan dibarengi dengan banjir lokal juga menyusul Dul Rohim.

"Hi hi hi hi hi...., nah kan..., apa saya bilang Siti, mereka tidak akan sanggup melihat wujud asli kita setelah kita mati, tuh, pada pingsan sambil berenang kan jadinya" kata Mariam dengan tertawa cekakakan yang ditahan karena takut suaranya terdengar sampai ke Tuan Rumah Green Crescent yang sedang tidur.

Lalu Mariam pun mengajak Siti Nurjannah keluar kamar dua Mahasiswa Indonesia itu untuk bermain di taman, di rumah Siti Nurjannah semasa hidup.

Search Engine