Powered By Blogger
Add to Technorati Favorites

Al Quran's verse

(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Ra'd, ayat 28).

Search Engine

Showing posts with label kenakalan remaja. Show all posts
Showing posts with label kenakalan remaja. Show all posts

Thursday, December 11, 2008

Aku Tidak Kecil Lagi


oleh:
Prof. Dr. Zakiah Daradjat


Seorang remaja berumur 15 - 18 tahun menangis tersedu-sedu tatkala ia dimarahi oleh ayahnya di hadapan orang lain. Pangkal soalnya adalah, ia lupa untuk menyampaikan pesan ayahnya kepada seseorang. Sambil menunduk, ia berjalan perlahan-lahan memasuki kamar. Ia menelungkupkan wajahnya ke tempat tidur. Ia menyesal, kendati ia tidak sengaja melupakan pesan itu. Tapi, ia juga sangat malu, lantaran ayahnya seolah-olah sengaja melecehkan dirinya di depan orang lain. Ia merasa lebih malu lagi saat ayahnya mengatakan, kamarnya berantakan.

Lain lagi apa yang dirasakan oleh seorang remaja putri, yang dimarahi oleh orang tuanya, dekat temannya, karena ia terlambat pulang. Ia juga tidak habis mengerti mengapa orang tuanya mengejeknya sebagai orang yang tidak pandai bergaul, pemalas, tidak mau bekerja, bahkan mandipun malas. Gadis itu, yang saat ini duduk di kelas 2 SMU, sangat malu dan tidak berani menjawab.

Selain mereka di atas, banyak lagi remaja yang merasa dirinya sudah besar, tetapi dipandang oleh orang tuanya seperti anak kecil saja. Banyak pula orang tua yang suka membandingkan anaknya yang telah remaja dengan dirinya dahulu, ketika ia seumur anaknya.

Sebenarnya, remaja yang sedang mengalami pertumbuhan fisik yang cepat dan perkembangan kecerdasan yang hampir berakhir akan mudah tersinggung. Kepribadian mereka pun labil. Lantaran itu, mereka memerlukan dorongan untuk memperkuat dirinya. Dan, yang mereka butuhkan, untuk itu, ialah pengertian orang tua terhadap kondisi yang labil itu.

Pada umur-umur tersebut, remaja sibuk menghadapi perkembangan cepat yang sedang dilaluinya. Ada yang merasa wajahnya kurang ganteng, kurang mendapat perhatian dari teman-teman lawan jenis, seolah-olah dirinya tersisih dari teman-temannya. Kadang-kadang merasa condong untuk diam, tidak mau berbicara dengan orang tuanya, karena takut tidak akan diperhatikan, atau orang tuanya selalu bersikap otoriter, mengecam, meremehkan, dan tidak mau mendengarkan keluhannya.

Semua itulah yang menyebabkan hampir semua remaja tertutup kepada orang tuanya. Padahal, pada saat yang sama, mereka membutuhkan tempat menumpahkan perasaan dan keluhannya. Dan sebenarnya, orang tuanyalah tempat pertama ia untuk mengadu.

Tidak jarang kita menemukan remaja yang merasa tertekan oleh orang tuanya sendiri. Mereka takut atau enggan berbicara kepada orang tuanya, yang disangkanya tidak mau mendengar keluhannya, atau menjawab dengan kata-kata keras, sinis, dan bangga diri. Bahkan, tidak jarang remaja yang telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tidak berani mengungkapkan pendapatnya kepada orang tuanya, atau kepada orang dewasa lain.

Masalah mereka adalah masalah rendah diri. Harga diri mereka tidak berkembang. Mereka tidak mampu merasakan bahwa ia telah besar, karena selalu dipandang kecil oleh orang tuanya. Wallahu 'alam.

Monday, April 30, 2007

Makan Bersama di Rumah

Makan bersama keluarga di rumah merupakan suatu kegiatan positif di dalam rumah tangga untuk terus meningkatkan nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga. Dengan adanya kegiatan makan bersama keluarga di rumah, kita dapat lebih mendalami karakter dari masing-masing anggota keluarga dan meningkatkan ikatan batin antara satu dengan yang lainnya.

Menurut penelitian, seringnya melakukan makan bersama keluarga selain untuk menjalin kebersamaan dalam tiap anggota keluarga, juga untuk mengenalkan pada anak suatu konsistensi dan rutinitas, melatih anak berkomunikasi, tata krama, gizi dan kebiasaan makan yang baik.

Bukan hanya itu saja, ternyata juga membawa perkembangan baik bagi remaja, dan ini telah terbukti dalam penelitian. Remaja yang makan bersama keluarga, akan lebih berprestasi di sekolahnya dan lebih kecil kemungkinan untuk jatuh dalam pergaulan yang buruk seperti menggunakan obat-obatan dan alkohol, dan kemungkinan untuk mengalami masalah psikis seperti depresi, dibanding dengan remaja yang jarang makan bersama keluarganya.

Penelitian ini dilakukan terhadap 4.700 remaja, dan kepada mereka semua ditanyakan berapa sering mereka makan bersama keluarga dan seberapa dekat mereka dengan keluarganya. Hampir 27% remaja, makan bersama keluarga sedikitnya 7 kali dalam seminggu dan sekitar sepertiganya, makan satu atau dua kali dalam seminggu, atau tidak pernah sama sekali.

Semakin sering mereka makan bersama keluarga, semakin kurang kemungkinan mereka menggunakan obat-obatan, alkohol, dan rokok. Juga dalam hal masalah psikis, mereka lebih sedikit yang mengalami depresi, rasa rendah diri, keinginan atau pikiran untuk bunuh diri. Dan prestasi mereka di sekolah lebih baik. Dan kegunaan makan bersama ini, terutama terlihat pada remaja wanita, walau pada remaja pria juga terlihat.

Untuk itu, mari kita biasakan kembali makan bersama dengan keluarga di rumah minimal 1 kali dalam sehari, ya selain untuk menghindari hal-hal negatif yang bisa terjadi pada anggota keluarga, makan bersama dengan keluarga juga bisa membuat berat badan anggota keluarga bertambah karena membuat nafsu makan bertambah. Nah, rasakan manfaatnya sendiri. Wallahu 'alam.

Search Engine