Time of Indonesia

Al Quran's verse

(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram. (Q.S. Ar-Ra'd, ayat 28).

Search Engine

Wednesday, January 07, 2009

Innersounds Gabung ke elwara.net

Salam'alaikum sahabat semua.

Berhubung saya sudah fokus di website elwara, maka dengan ini saya akan memindahkan semua postingan saya di innersounds ini ke alamat elwara. Untuk itu, selama 1 bulan ke depan, saya akan pindahkan semua arsip di innersounds ke elwara, lalu akan menutup blog ini. Mohon maaf dan terima kasih.

Wasalam.

Thursday, December 11, 2008

Aku Tidak Kecil Lagi


oleh:
Prof. Dr. Zakiah Daradjat


Seorang remaja berumur 15 - 18 tahun menangis tersedu-sedu tatkala ia dimarahi oleh ayahnya di hadapan orang lain. Pangkal soalnya adalah, ia lupa untuk menyampaikan pesan ayahnya kepada seseorang. Sambil menunduk, ia berjalan perlahan-lahan memasuki kamar. Ia menelungkupkan wajahnya ke tempat tidur. Ia menyesal, kendati ia tidak sengaja melupakan pesan itu. Tapi, ia juga sangat malu, lantaran ayahnya seolah-olah sengaja melecehkan dirinya di depan orang lain. Ia merasa lebih malu lagi saat ayahnya mengatakan, kamarnya berantakan.

Lain lagi apa yang dirasakan oleh seorang remaja putri, yang dimarahi oleh orang tuanya, dekat temannya, karena ia terlambat pulang. Ia juga tidak habis mengerti mengapa orang tuanya mengejeknya sebagai orang yang tidak pandai bergaul, pemalas, tidak mau bekerja, bahkan mandipun malas. Gadis itu, yang saat ini duduk di kelas 2 SMU, sangat malu dan tidak berani menjawab.

Selain mereka di atas, banyak lagi remaja yang merasa dirinya sudah besar, tetapi dipandang oleh orang tuanya seperti anak kecil saja. Banyak pula orang tua yang suka membandingkan anaknya yang telah remaja dengan dirinya dahulu, ketika ia seumur anaknya.

Sebenarnya, remaja yang sedang mengalami pertumbuhan fisik yang cepat dan perkembangan kecerdasan yang hampir berakhir akan mudah tersinggung. Kepribadian mereka pun labil. Lantaran itu, mereka memerlukan dorongan untuk memperkuat dirinya. Dan, yang mereka butuhkan, untuk itu, ialah pengertian orang tua terhadap kondisi yang labil itu.

Pada umur-umur tersebut, remaja sibuk menghadapi perkembangan cepat yang sedang dilaluinya. Ada yang merasa wajahnya kurang ganteng, kurang mendapat perhatian dari teman-teman lawan jenis, seolah-olah dirinya tersisih dari teman-temannya. Kadang-kadang merasa condong untuk diam, tidak mau berbicara dengan orang tuanya, karena takut tidak akan diperhatikan, atau orang tuanya selalu bersikap otoriter, mengecam, meremehkan, dan tidak mau mendengarkan keluhannya.

Semua itulah yang menyebabkan hampir semua remaja tertutup kepada orang tuanya. Padahal, pada saat yang sama, mereka membutuhkan tempat menumpahkan perasaan dan keluhannya. Dan sebenarnya, orang tuanyalah tempat pertama ia untuk mengadu.

Tidak jarang kita menemukan remaja yang merasa tertekan oleh orang tuanya sendiri. Mereka takut atau enggan berbicara kepada orang tuanya, yang disangkanya tidak mau mendengar keluhannya, atau menjawab dengan kata-kata keras, sinis, dan bangga diri. Bahkan, tidak jarang remaja yang telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tidak berani mengungkapkan pendapatnya kepada orang tuanya, atau kepada orang dewasa lain.

Masalah mereka adalah masalah rendah diri. Harga diri mereka tidak berkembang. Mereka tidak mampu merasakan bahwa ia telah besar, karena selalu dipandang kecil oleh orang tuanya. Wallahu 'alam.

Search Engine